November 09, 2014

Trip Termahal...?

Kemarin ada seorang teman yang bertanya,
Dari semua trip kamu, mana yang paling mengeluarkan banyak biaya?
Saat itu, dengan kesempatan berpikir tiga koma satu empat dua delapan lima tujuh (berasa hitungan phi kaliiii~) detik, aku pun menjawab: "Lombok!"

Sekarang, aku akan mencoba menjabarkan jumlah biaya dari beberapa trip termahal yang pernah kutempuh. Trip-trip berikut ini adalah perjalanan lintas provinsi yang berlangsung selama 1-10 hari.

1. Three Provinces Trip
Meliputi Dieng Plateau, Gunung Bromo, Jogja-Gunungkidul, dan Semarang, aku menghabiskan biaya sekitar Rp900.000,- untuk fixed cost, yaitu biaya diluar pengeluaran makan, jajan, biaya tak terduga, dan belanja pribadi lainnya.



Yang paling membuat mahal adalah ongkos bus dan travel yang kutempuh untuk berkeliling dari satu kota ke kota lain, karena tidak ada transportasi yang bisa mengangkut langsung dari kota A ke kota B yang sebenarnya menjadi tujuan utama.

2. Jelajah Toraja Trip
Sejujurnya aku agak lupa dengan biaya yang kukeluarkan untuk trip ini. Hal yang paling kuingat adalah biaya sewa mobil yang kami gunakan dari Makassar-Toraja-Makassar sebesar Rp800.000,- sudah termasuk bensin dan supir. Ya, agak besar memang. Maklumlah, perjalanan Makassar-Toraja butuh waktu tempuh 8 jam.


Untuk tiket pesawat, seingatku sebesar Rp400.000,- untuk PP karena sedang ada promo dari maskapai AirAsia. Jadi untuk keseluruhan perjalanan, aku menghabiskan Rp1.500.000,- termasuk pengeluaran pribadi, ongkos damri ke/dari bandara, serta airport tax.

3. Padang-Bukittinggi Trip
Kali pertama aku nge-trip sekaligus menginjakkan kaki di Pulau Sumatera, aku hanya menghabiskan Rp500.000,- saja. Ya! Rahasianya? Aku mendapatkan tiket gratis kali ini, hihihi, thanks to temannya Bang Adi yang gagal berangkat :')


4. Bali-Lombok (BALOK) Trip
Sesuai dengan trip review yang telah kutulis disini, biaya yang kukeluarkan adalah sebesar Rp1.418.000,- diluar tiket pesawat untuk perjalanan kembali ke Jakarta (Rp950.000,-)


5. Pulau Belitung Trip
Perjalanan yang ini juga telah kuulas dalam Kisah Laskar Pejalan di Negeri Timah. Tiket pesawatnya seharga Rp787.000,- untuk PP Jakarta-Tanjungpandan dibeli dalam masa promosi maskapai Garuda Indonesia. Total biaya yang kami keluarkan termasuk makan selama 4H3M sebesar Rp1.995.751,- saja.


6. East Java Trip
Keliling Jawa Timur meliputi Kediri, Malang, dan Sidoarjo ini adalah trip paling tidak tercatat yang pernah kulakukan. Hahaha~ Bisa dibilang trip ini agak berantakan karena aku lebih mengkhususkan planning untuk surprise ulang tahun seseorang :p Secara kasar, biaya yang kukeluarkan untuk trip ini hanya Rp600.000,- (FC only), karena di Kediri dan Malang aku menginap di rumah Lely dan kos Shabrina.


7. Escape to Makassar Trip
Hanya berjarak seminggu setelah Jelajah Toraja Trip, aku kembali lagi menginjakkan kaki ke Provinsi Sulawesi Selatan. Bedanya, kali ini hanya jalan-jalan sekitar Kota Makassar. Karena masih menggunakan tiket promo dari AirAsia, sepertinya aku hanya menghabiskan Rp500.000,- untuk trip ini. Apalagi kami menginap gratis di rumah Bang Adi di Makassar, hehehe...


8. Hopping Island Trip
Sejauh ini, Hopping Island Trip adalah perjalanan satu-satunya yang kulakukan bersama sebuah trip organizer. Biayanya hanya Rp315.000,- sudah all in penginapan dan makanan 2H1M dengan meeting point dimulai dari Pelabuhan Muara Angke.


9. Laskar Jogja Trip
Kali perdana aku menginjak Jogja bersama dengan teman-teman seperjuangan di kampus STAN. Karena ini adalah perjalanan nggembel, aku yakin tidak menghabiskan banyak uang di trip ini. Mungkin sekitar Rp400.000,- lah biaya yang dikeluarkan selama lima hari tersebut. Thanks to Danang yang sudah memberikan tumpangan, dan Budi yang superjago dalam tawar-menawar! :)


10. Bandar Lampung Trip
Karena tinggal di rumah Fakhri, aku hanya menghabiskan sekitar Rp500.000,- saja untuk trip ini. Ditambah lagi kami hanya jalan-jalan menggunakan sepeda motor, sehingga pengeluarannya sebagian besar adalah untuk bensin.



Nah, dari sepuluh trip diatas, ketahuan kan yang mana yang termahal? Bali-Lombok tentu saja! Berarti perhitungan asal-asalanku selama tiga detik tersebut benar adanya. Total bersih pengeluaranku untuk BALOK Trip adalah Rp2.368.000,- Itu pun hanya yang sempat terhitung, alias belum termasuk jajan-jajan kecil selama perjalanan, hehehe...

Jika nanti ada koreksi, akan segera ku-update ya, readers. Thank you for reading! :*

October 31, 2014

Three Provinces Trip: Semarang Tour

Sama seperti dua tahun yang lalu, atau bahkan seminggu yang lalu, Semarang masih saja panas menyengat, Bung! Tapi hal ini justru lebih melegakan, karena berarti... jalan-jalan akan terus terlaksana! Yihaaa! Di rumah Kunto ini kami bisa menikmati sepuasnya apa yang sebelumnya tidak bisa diperoleh: bangun siang! Didukung dengan kondisi kamar Kunto yang anti-terang (?) kami baru bisa terbangun diatas jam sembilan pagi, luar biasa.

Hari pertama, Vihara Buddhagaya Watugong menjadi first destination jelajah Semarang. Selain kami dan dua orang pria yang saling memotret di depan pagoda, tidak ada pengunjung lain disana. Mungkin karena hari kerja sih, ya. Tapi kami jadi ragu-ragu berkeliling vihara, takut melanggar ruang suci atau sejenisnya yang tidak boleh dimasuki pengunjung. 



Ujung-ujungnya, karena tidak ada yang melarang, kami pun masuk hingga ke dalam ruang utama vihara dimana terdapat patung Buddha raksasa setinggi +- 4 meter. Ini dia objek wisata utamanya. Tentunya kami berkeliling tanpa ribut-ribut, bahkan masuk ke ruang Buddha raksasa nyaris tanpa suara, bagaimanapun ini adalah tempat ibadah yang harus kita jaga kekhidmatannya.




Di bagian belakang terdapat Patung Buddha Tidur juga, lho...

Beranjak dari vihara, kami bergegas menuju Lawang Sewu. Bangunan yang hanya pernah kulihat di acara-acara televisi ini sekarang tidaklah seseram bayanganku. Pemerintah telah mengadakan renovasi di sana-sini sehingga Lawang Sewu menjadi gedung apik yang digunakan sebagai museum perkeretaapian dan dibuka hanya sampai sore hari. Padahal banyak teman-temanku yang sudah berpesan, "Datengin Lawang Sewu enaknya pas malem hari, masuk ke ruang bawah tanah, trus liat deh pasti banyak 'yang aneh-aneh'" Nah! Satu-satunya hal yang aneh disini adalah renovasi di Gedung A membuat kami tidak bisa melihat langsung kaca patri indah itu. Kaca patri? Ya, itu adalah sebuah mahakarya kaca bergambar dengan warna-warni memukau terdapat di lantai 2 Gedung A Lawang Sewu, sejenis dengan kaca mozaik yang bisa kita temukan di pintu masuk Museum Bank Mandiri, Kawasan Kota Tua. Kami pun hanya bisa mengaguminya dari lukisan-lukisan yang dipamerkan di Gedung B.




Salah satu benda pameran di Museum Kereta Api

Memasuki Lawang Sewu, kita dikenakan HTM sebesar Rp10.000,- per orang dan Rp30.000,- untuk tour guide. Katanya sih tour guide ini akan mengawal sehingga kita bisa memasuki ruang-ruang yang ditutup karena renovasi. Saat kutanyakan pada seorang pekerja di Gedung B, nyatanya kami tetap tidak bisa melihat kaca patri itu walau disertai seorang tour guide. Duh, untunglah kami tidak tergoda :(


(Gambar) Kaca Patri di Lawang Sewu

Karena Lawang Sewu tidak menyediakan lahan parkir, kami parkir di dekat restoran Holliday yang tidak jauh dari sana. Sekalian makan siang deh jadinya, hitung-hitung menunggu matahari 'tergelincir' agak ke Barat. 



Itadakimasu!

Puas mengisi perut dan memanjakan lidah, perjalanan pun dilanjutkan ke next tourism spot: Klenteng Sam Po Kong. Panasnya matahari masih tidak tertahankan. Sangat disarankan untuk membawa pelindung mata dan kepala, karena luasnya Sam Po Kong akan membuat kita banyak berjemur keasyikan memotret seluruh sudutnya. Warna merah-kuning klenteng begitu menyejukkan, ditambah lagi langit yang saat itu berwarna cerah, sangat kontras berpadu dan memukau setiap orang yang melihat. Aku pribadi langsung teringat film-film kolosal Korea dan Cina begitu menginjakkan kaki ke halaman klenteng yang teramat luas. Rp3.000,- tidak berharga rasanya jika dibandingkan kemegahan yang satu ini. Keren!











Selama perjalanan di Dieng, Yuangga dan Kunto sering menunjukkan feed Instagram milik beberapa traveller yang di-follow-nya. Disana terdapat berbagai foto suatu lokasi tersembunyi di Semarang yang baru-baru ini menjadi primadona wisatawan domestik maupun mancanegara. Namanya "Brown Canyon" yang disebut-sebut sebagai "Arizona"-nya Indonesia. Lihat saja foto-foto di bawah ini, gersangnya bukit ditambah tegaknya berbagai batu padas yang menjulang dimana-mana. Luar biasa. Bahkan di grup facebook "Beautiful Indonesia" pun pernah dibahas tentang lokasi ini. Tak kurang dari 300 komentar menghiasi post tersebut. Rupanya lokasi ini adalah bukit yang tengah dalam proses perataan untuk pembangunan komplek perumahan baru di Pucang Gading. Wah sayang sekali. Kami sebelumnya sempat tersesat ketika mencari lokasi bukit ini. Beruntung, kami nyasar ke sebuah pondok pesantren yang juga berada di ujung jalan tanjakkan, dan dari ponpes ini terlihat jelas batu-batuan padas yang megah kecokelatan di kejauhan. Aku langsung dibuat terpesona pada pandangan pertama. Readers bisa membayangkan kan gimana rasanya melihat keindahan ini dari dekat? :)









Hari kedua penjelajahan Semarang dimulai pada siang hari. Rombongan hari ini pun bukan terbatas pada kami berempat lagi, melainkan bertambah Papa, Mama, dan Tante Kunto yang lebih mengenal tempat-tempat wisata yang akan kami kunjungi hari ini. Sebenarnya, daripada menyebut trip ini sebagai "Three Provinces Trip", lebih cocok jika menyebutnya "Temple Hunting Trip". Kenapa? Karena hari ini kami menyambangi begitu banyak candi! Hahaha... Destinasi pertama (dan terbanyak objek wisatanya) adalah Candi Gedong Songo yang berlokasi di Kec. Bandungan, Kab. Semarang. "Songo" berarti "Sembilan" dalam Bahasa Jawa. Artinya, ada sembilan buah candi di lokasi ini yang tersebar dalam beberapa titik. Disini juga kami dituntut untuk mendaki lagi demi menemui keenam candi yang masih tersisa. Thank God we have mamanya Kunto yang sudah menyediakan bekal cemilan dan jagung rebus untuk sumber tenaga :') Walaupun berangkat bersama Mama, Papa, dan Tante, toh mereka tidak cukup kuat untuk mendaki hingga candi terujung. Alhasil kami berempat dibiarkan mendaki sendiri, hingga waktu azhar tiba. Lama ya? Iya, banyak istirahat (dan foto-foto selfie) sih...


Candi pertama





Candi ketiga

Reruntuhan candi yang belum sempat dipugar

Selfie di candi kesembilan, akhirnya!

Destinasi kedua sekaligus terakhir letaknya lebih tersembunyi lagi dari Bukit Batu Padas, karena berada di antara pemukiman warga. Meskipun hari sudah beranjak malam, Papa Kunto tetap gigih mengunjungi tempat ini agar kami bisa melihat salah satu bukti peninggalan budaya lainnya. Ya, kami mengunjungi Candi Ngempon. Candi Ngempon ini dibangun pada masa yang sama dengan Gedongsongo, yaitu sekitar abad 12-13 M. Candi terdiri dari 6 bangunan, yaitu 1 candi induk dan 5 candi perwara yang saling berhadapan. Sama seperti Candi Gedongsongo juga, di lokasi candi ini terdapat tumpukan bebatuan yang diperkirakan adalah bangunan candi yang runtuh dan belum bisa dipugar kembali. Karena keadaan sudah gelap, kami tidak berlama-lama di sini. Toh juga tidak bisa puas berfoto karena lighting yang tidak memadai. Cukuplah sudah melihat arsitekturnya yang unik (memiliki relief burung yang berbeda-beda di setiap badan candi). Mari kita pulang!


Salah satu relief di kaki candi

Mie ayam di Bakmi Jakarta (Mie Ayam Gajah), lezaaaaat~

Seiring dengan berakhirnya hari kedua, selesai jugalah petualangan kami di Semarang. Begitu banyak pengalaman baru yang aku peroleh di Semarang, sebagian besar karena transfer ilmu dari Papa-Mama Kunto :') Terima kasih banyak, Pakdhe dan Budhe, semoga bisa bertemu lagi di liburan selanjutnya! Hihihi...

Cuma punya foto bareng Budhe :(

Rumah Kunto yang penuh keris antik koleksi si Pakdhe

Nah, readers, demikianlah perjalanan naik gunung-turun gunung, menginjak berbagai terminal & stasiun, melihat puluhan kabupaten di tiga provinsi, dan tentu saja mereguk begitu banyak keindahan yang diciptakan Tuhan. Mulai dari matahari terbit hingga terbenam, mulai dari pantai hingga puncak gunung, mulai dari makan mie instan hingga mencicipi restoran mahal, serta menempuh ribuan jarak dengan kaki, motor, mobil, dan kereta! Semuanya terpenuhi dalam 10 hari, dengan biaya Rp900.000,- saja! Semoga nggak ada lagi yang asal nyeletuk, "Erlin duitnya banyak ya bisa jalan-jalan terus..." karena sesungguhnya kita semua bisa melakukannya jika ada kemauan dan tekad keras ;)

Terima kasih banyak sudah membaca. Semoga catatan perjalanan ini banyak membantu pembaca sekalian yang sedang menyusun itinerary, atau sekadar memberi pengetahuan baru untuk yang belum sempat mengunjungi tempat-tempat ini. Dan jangan lupa juga motto hidup pejalan, "Take nothing but pictures, leave nothing but footsteps, kill nothing but time // Jangan ambil apapun selain potret, jangan tinggalkan apapun selain jejak kaki, jangan bunuh apapun selain waktu." Sampai jumpa!


PS. Special thanks kali ini kupersembahkan untuk Bili :)) Siapa Bili? Nama lengkapnya adalah.... Mobilio! Hahaha... Mobil keluarga Kunto ini telah begitu memanjakan kami yang selama seminggu sebelumnya harus jalan kaki untuk kemana-mana. Bili bahkan dengan tangguhnya bisa membawa kami ke daerah penuh pasir macem Brown Canyon. Makasih ya, Bil! :*


PPS. Daftar pengeluaran di Semarang hingga pulang Jakarta



Tiket Lawang Sewu                Rp10.000
Tiket Sam Po Kong              Rp3.000
makan malam di Adi's*         Rp28.000 
beli oleh2 tahu bakso*        Rp26.000
makan siang di Bakmi Jakarta*  Rp12.000
beli aqua*                      Rp3.000
KA Matarmaja SMC-PSE       Rp60.000
Total Fixed Cost                  Rp73.000
Total FC + Personal Cost (*) Rp142.000

Total biaya trip: Rp217.000 + 365.500 + 251.000 + 73.000 = Rp906.500,-

October 30, 2014

Three Provinces Trip: Yogyakarta City

Jogja! Jogja! Jogja! Semoga kota ini tidak bosan menerima kedatanganku yang seringkali menjadikannya tempat transit :')

Aku, Aldo, Kunto, dan Yung menginjakkan kaki di Yogyakarta pada pukul 18.00 WIB. Sang nyonya rumah, Lia, berhalangan untuk menemui kami malam ini karena sesuatu dan lain hal *tsahh* Lia yang begitu baik hati dan rajin menabung ini, readers, telah memesan homestay untuk kami tinggal selama 4H3M ke depan. Duh, baik bangeeeet :3 Lia! Awas aja ya kalau kamu ke Manado tapi nggak bilang-bilang ke aku dulu :( 
Penginapan kami terletak di Pojok Beteng Kulon yang menurut GPS hanya berjarak +- 10 menit berkendara dari Lempuyangan. Harga Rp50.000,- naik taksi dan Rp30.000,- naik becak, yang kami tanyai di stasiun, terasa sangat membebankan untuk jarak 10 menit itu. Maklumlah, aku memang pejalan superirit. Kami pun dengan nekat berjalan kaki menempuh 4,3 km perjalanan ke Pokteng Kulon. Di tengah perjalanan memang sempat mengisi perut untuk makan malam, tapi ternyata 4,3 km itu melelahkan juga ditempuh dengan membawa ransel berat.

Three Provinces Trip: Mount Bromo

Setibanya di Wonosobo, perjalanan kembali tersendat. Rupanya, kami tidak bisa langsung meneruskan perjalanan ke Malang! Huastagaahhh~ Padahal dalam itinerary yang kususun, perjalanan Wonosobo-Malang dapat ditempuh hanya dalam 8 jam menggunakan bis ekonomi. Entah dari mana aku mendapatkan info itu. Yang jelas, pada kenyataannya, kami harus menempuh Wonosobo-Magelang-Jogja-Jombang sebelum akhirnya bisa menginjak Malang. Inilah kenyataan hidup sebagai backpacker, alih-alih naik bis eksekutif P.O. Handoyo Magelang-Surabaya, malah akhirnya naik bis ekonomi ke Jogja yang hanya seharga Rp10.000,- itu. Jadwal pun mengalami reschedule disana-sini sehingga aku langsung menghubungi Mas Pras, pemilik jip di Malang, untuk minta maaf karena mengundurkan jadwal sehari. Readers, nanti kalian akan membaca betapa ramahnya sosok Mas Pras ini ketika kami menyambangi rumahnya sebelum & sesudah ke Bromo. Saat aku mengabari bahwa kedatangan kami diundur sehari, beliau malah menyemangati: "Gak papa Mbak, namanya juga di jalan. Semua adventure itu tetap harus mengutamakan safety." Wah, padahal aku sudah cemas nanti akan diprotes, atau kena charge, atau malah dibatalkan sepihak dari Mas Pras. Hehehe...


Beberapa jam menuju keagungan Bromo!

October 28, 2014

Three Provinces Trip: Dieng Plateau

Judul trip-ku yang terbaru kuberi judul "Trip Tiga Provinsi" karena lokasinya yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan D.I. Yogyakarta. Namun sesungguhnya trip ini terwujud sebagai trip terakhir dengan status pengangguran, karena kami memang akan segera mulai bekerja di Kementerian Keuangan.

Destinasi pertama, Dieng, dengan tumpukan-tumpukan sawahnya.
Adalah Kunto dan Aldo, dua anggota BALOK Trip yang lalu, yang menjadi salah satu faktor utama aku mengadakan trip ini. Ya, selama berbulan-bulan ini aku banyak menghabiskan waktu dengan mereka, sehingga sempat terlintas dalam benak: "Bagaimana jika nanti mereka ditempatkan jauh dari Jakarta yang otomatis akan membuat kami susah bertemu?" FYI, keduanya adalah CCPNS di Dirjen Pajak dan sama-sama berkeinginan untuk kerja di kota asalnya masing-masing, sementara aku sudah pasti akan hidup di Jakarta sebagai pegawai di BKF. Alhasil, aku pun berencana menyambangi mereka di Semarang sebelum memulai perjalanan trip entah-kemana-saja-kaki-ini-hendak-melangkah.

Yuangga Friski Primayoga a.k.a Yung, teman seperjuangan di Paduan Suara Panitia Wisuda (PAPAN Panwis) 2012, adalah orang pertama yang kami ajak bergabung ke trip ini. Yung memang sesama pecinta jalan-jalan dan beberapa kali juga berwacana ingin bergabung dalam trip selanjutnya. Tercapai! :)

Setelah berembuk di grup WhatsApp selama beberapa hari, tercapailah keputusan yang bisa mengakomodasi semua keinginan kami: gunung, pantai, city tour, dan foto-foto. Tentu saja, bagian "foto-foto" adalah keinginan terkuat Aldo (aku bosan membaca "Jangan lupa bawa kamera" yang berkali-kali ditulisnya di grup -__-)
Dataran tinggi Dieng, Gunung Bromo, Pantai Gunungkidul & Kota Yogyakarta, serta jelajah Semarang menjadi destinasi trip kami selama +- 10 hari. Selanjutnya, kami ketambahan beberapa personil lagi untuk setiap tujuan: Arifin Nur Hidayat a.k.a Ipin, Septiyan Andy Prasetya a.k.a Asep, dan Desiana Rizki Amalia a.k.a Lia. 

June 14, 2014

PERKASA Trip: Central Java (Pt. 2)

Let's begin the adventure~!

FRIDAY. 2014/06/06
Hari Jumat yang indah ini, sesuai rencana, akan kami lewati a la Geng Motor! YEAY! Setelah kemarin seharian bermobil, sekarang saatnya merasakan sejuknya udara Boyolali-Magelang dengan motoran.

Pukul 07.00 aku membuka mata dan menemukan diriku tengah menggigil akibat dinginnya hawa pagi hari Boyolali. Woo hoo! I'm not missing you, Jakarta! HAHAHA. Bapak & Ibu Santi telah menyiapkan sajian khas Boyolali untuk kami: susu sapi segar! Aku yang adalah makhluk penggila susu tentu saja segera memanjatkan puji syukur atas berkat yang diberikan Tuhan ini :3 *lebay kali, Lin!* Susu semangkuk besar ini segera kuhabiskan sendiri, apalagi Ayuni dan Santi(!) ternyata tidak doyan susu.


Perjalanan dimulai pukul... hmm... pukul berapa ya :( Maafkan kemampuanku mengingat detail, ya, readers. Meskipun kami bangun jam tujuh, tapi *sepertinya* kami baru memulai perjalanan sekitar jam sembilan, dikarenakan antrian mandi dan dandan maksimal yang memakan banyak waktu. Hehehe~

Pukul 10.15 WIB kami bertemu dengan Putut di lokasi yang telah ditentukan (lagi-lagi aku lupa nama lokasinya). Kali ini tanpa Amalia yang sudah punya acara lain. Fakhri-Santi, aku-Putut, dan Santi yang motoran sendiri, kami siap memulai perjalanan!

Berhenti di pinggir jalan demi sepotong keindahan menakjubkan ini :)
Tujuan pertama adalah menuju Ketep Pass. Ketep Pass adalah sebuah objek wisata yang sudah terhitung wilayah Magelang, dengan pemandangan spektakuler Gunung Merapi di kejauhan. Ketep Pass ini berada di puncak Bukit Sawangan, diapit oleh Gunung Merapi dan Merbabu, pada ketinggian 1200 mdpl. Brrrr!! Meski tidak sedingin Candi Ceto kemarin, tetap saja sukses membuatku kedinginan. Dari Boyolali, kami menempuh +- 35 KM menuju Ketep Pass.

Kami sempat berhenti dulu untuk beristirahat, sambil menunggu Fakhri menunaikan shalat Jumat di masjid dekat pemukiman warga sekitar Ketep Pass. Puji Tuhan bisa menemukan kios jagung bakar yang cukup enak dengan harga pas di kantong! Sambil makan, aku terus mengagumi pemandangan hutan dan bukit berselimutkan kabut di kejauhan.



Memasuki Ketep Pass, pengunjung segera disambut ruangan a la museum yang menjadikan Gunung Merapi sebagai koleksi utamanya. Disini terdapat miniatur Gunung Merapi untuk mempelajari berbagai rute mendaki Gunung Merapi. Ah, entah kapan aku bisa menjejakkan kaki di puncak gunung megah itu :')


Selain miniatur Gunung Merapi, Museum Vulkanologi ini juga menyimpan berbagai dokumentasi kegunungapian, berbagai contoh bebatuan bukti letusan dari tahun ke tahun, poster puncak Garuda berukuran 3x3 m, dan beberapa foto & poster lainnya yang menggambarkan aktivitas Gunung Merapi.



Puas menikmati museum *aku sih, yang lain kayaknya "menemani Erlin menikmati museum" :3* kami menuju Pelataran Pancaarga, yang artinya "Lima Gunung". Di lokasi tertinggi Ketep Pass ini kita bisa melihat 5 gunung (kami kurang beruntung karena saat itu kabut ada dimana-mana): Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet. Indah sekali!!!

Oh ya, untuk tiket masuk ke objek wisata ini adalah Rp7.500,- per orang dan Rp2.000,- per motor untuk parkir. Jika tiba-tiba diserang lapar, di sepanjang Gardu Pandang terdapat kios-kios yang siap menyajikan mie instan hangat untuk mengusir rasa dingin! Kami meninggalkan Ketep Pass pukul 13.21 WIB.



Belum puas mengunjungi air terjun, aku kembali (merengek-rengek) minta diajak menyambangi air terjun lain di Magelang. Aku mengetahui air terjun Kedung Kayang dari my favorite travelblogger's page: efenerr.com *please take your time to visit him ;)*. Keempat makhluk pengertian itu akhirnya menyetujui permintaanku, toh memang tidak ada lagi tempat wisata yang ingin dituju. Opsinya hanya dua: Kedung Kayang, atau pemandian air panas *entah apa namanya*. Air terjun, tentu saja!

Air terjun Kedung Kayang ini letaknya tidak jauh dari Ketep Pass. Letaknya di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, sehingga sering juga disebut "air terjun Wonolelo". Dari pelataran parkir motor menuju air terjun, kita cukup mengikuti jalan setapak yang telah disemen (atau dipaving, ya?). Tidak lama berjalan, kita akan menemukan pemandangan air terjun di bawah sana yang kemudian membentuk aliran sungai jernih. Waaaahh, sejuk sekaliiii~ 



Setelah beberapa kali jeprat-jepret si air terjun dari ketinggian, kini saatnya menghampiri 'beliau' dari jarak dekat. Nah, mari kita trekking! Hehehe... Jalur trekkingnya ringan, namun menantang bagi yang merasa jarang olahraga. Melewati jalur ini, kami sukses membakar kalori yang sudah menumpuk di perut ini.



Saat kami datang, lokasi ini tidak begitu ramai. Namun tetap saja ada dua-tiga pasangan yang berada di sini. Kami berpapasan dengan beberapa pasangan dan gerombolan anak SMA ketika trekking ke bawah. Syukurlah tidak seramai Grojogan Sewu! :')

Pukul 14.11 kami mendarat dengan sempurna di hadapan Air Terjun Kedung Kayang yang megah itu. Ah, segarnya~ Apalagi tidak ada orang lain yang mengganggu kebahagiaan kami kala itu. Tapi wacana untuk mencicipi sejuknya air tidak jadi kami laksanakan, padahal sudah kepalang tanggung karena celana kami juga basah kuyup akibat harus menyeberang sungai menuju kesini. Hahaha... Alhasil kami terus foto-foto selama +- 1 jam. 



Sekali lagi, maafkan aku ya readers, yang tidak bisa mengingat berapa retribusi memasuki objek wisata ini. Yang pasti tidak akan memberatkan kocek kok, tenang saja! ;)

Selepas dari Kedung Kayang, kami memutuskan untuk pulang ke Boyolali saja. Apalagi mengingat Putut yang mengalami 'musibah' disengat hewan-entah-apa menyebabkan matanya iritasi. *Semangat, Putut!* Sepanjang perjalanan pulang, mata kami dimanjakan oleh keindahan Merapi dan hamparan kebun & sawah di sekeliling. Seandainya yang begini ini ada di Jakarta ya...



SATURDAY. 2014/06/07.
The last day! Empat hari di Boyolali terasa cepat sekali berlalu :( Padahal rasanya baru kemarin aku mengeluhkan dinginnya air dan sempat menolak keras untuk mandi pagi, huahahaa~

Hari ini, kami memuaskan diri berleha-leha di rumah Santi. Menikmati susu segar produksi sapi 'peliharaan' keluarga Santi. Menghirup dalam-dalam sejuknya udara Boyolali. Siang ini, kami akan berangkat ke Solo untuk mencari oleh-oleh bekal perjalanan pulang ke Jakarta. Sekalian melihat wujud kota Solo juga, yang belakangan tenar seiring dengan suksesnya Pak Jokowi, ex-walikota Solo, naik pangkat jadi Gubernur DKI Jakarta *sempet aja Lin, bahas politik :p*


Terima kasih banyak kami ucapkan khusus untuk Santi Sudarsih (yang kini sudah sah dipanggil "Bu Taufiq") dan keluarga besarnya. Iya. Keluarga besar. Soalnya Pakde/Bude/Pakle/Bu'le yang memberikan kami pinjaman helm kemarin, hihihi. Terima kasih sudah begitu memanjakan kami dengan sajian-sajian nikmat dan kasur empuk, dan susu sapi yang melimpah (untukku). Dan terima kasih juga untuk Putut dan keluarga besarnya, termasuk Lia, untuk rumahnya, ilmu dan ceritanya, serta pengalaman jalan-jalan yang super menyenangkan! Syukurlah mata Putut sudah membaik :'''')

Terima kasih untuk keindahanmu, Solo-Boyolali-Magelang dan sekitarnya! I'll come back for sure! Thank you for reading, people. Bye for now!


Kedung Kayang yang langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
(Padahal sih selalu begitu tiap liat air terjun hehehe...)